Seorang anak lelaki
Belum lagi genap sepuluh tahun
Bertelanjang kaki membawa parang menuju ladang
Dibawah terik membakar pundak membuat legam
Tak ada lagi sekolah untukmu nak!
Lupakan tentang seragammu yang selalu kau lipat dengan rapi
Semenjak kepergian bapakmu
Hanya tinggal kau dan adik perempuanmu yang masih harus kugendong
Dan sepetak lahan gambut yang selalu banjir ketika hujan turun
Hidup kita telah menjadi seperti ini
Didaerah transmigrasi dengan pribumi yang tak menerima kita dengan baik
Semoga kau menjadi anak yang kuat suatu hari nanti
Hingga dapat melindungiku dan adik perempuanmu
(Lunang, Desember 2005)
sebuah pencarian akan makna-makna dari perjalanan hidup yang terkadang rumit serta melelahkan
Thursday, December 08, 2005
Saturday, July 16, 2005
Andai malam ini tidak seperti malam-malam kemarin
Jendela yang terkuak lebar
Kemilau bintang yang menyumbul dibaliknya
Pohon-pohon yang melambai perlahan dan embun yang menetes karenanya
Andai ada canda tawa disini, tentu takkan ada tatap kosong yang merayapi ribuan bintang...
(lunang, 16 juli 2005)
Jendela yang terkuak lebar
Kemilau bintang yang menyumbul dibaliknya
Pohon-pohon yang melambai perlahan dan embun yang menetes karenanya
Andai ada canda tawa disini, tentu takkan ada tatap kosong yang merayapi ribuan bintang...
(lunang, 16 juli 2005)
Menahan hati ditengah rimba
Ditepi muara menuju pantai berombak menggapai huma
DiUjung Tanjung, tempat para lelembut berkuasa
Ketika sang surya ditelan samudera
Hari yang semakin kelam
Seperti kesedihan yang semakin suram
(16 juli 2005)
Ditepi muara menuju pantai berombak menggapai huma
DiUjung Tanjung, tempat para lelembut berkuasa
Ketika sang surya ditelan samudera
Hari yang semakin kelam
Seperti kesedihan yang semakin suram
(16 juli 2005)
Thursday, June 02, 2005
Langkahku selalu menjejak pasti.
Tak usah ditanya tentang keyakinan.
Aku tak pernah takut menantang prahara.
Sekali niat berpantang surut beringsut diam.
Hidupku gejolak menggapai hastrat.
Namun pada elok rengkuhmu, apiku padam.
Tuntas berbarapun tidak.
Aku diam.
Hening memendam rindu.
Kau telah membunuhku, perempuan...
(Pantai Padang, 03:30, 02 Juni 2005)
Tak usah ditanya tentang keyakinan.
Aku tak pernah takut menantang prahara.
Sekali niat berpantang surut beringsut diam.
Hidupku gejolak menggapai hastrat.
Namun pada elok rengkuhmu, apiku padam.
Tuntas berbarapun tidak.
Aku diam.
Hening memendam rindu.
Kau telah membunuhku, perempuan...
(Pantai Padang, 03:30, 02 Juni 2005)
Monday, May 09, 2005
Sunday, May 08, 2005
Memandangmu,
Tiba-tiba derai angin terperangkap pada gelisah kabut
Menoreh rasa
Teteskan bisu yang memuncak
Memandangmu,
Tiba-tiba laut kehilangan geliat
Jarak membatasi gerak
Sulit membaca isyarat
Memandangmu,
Tiba-tiba mimpi bersayap putih
Menemani perjalanan malam
Terbayang jemu pada satu peran
Yang seharusnya dilakonkan
Memandangmu,
Tiba-tiba adalah wajah purnama sempurna
Terperangkap pada pot kaca
Samar kata menjamahnya
Petualang pun kehilangan arah
Tak mampu mengukur jarak pengembaraanya.....
(Saduran puisi seseorang, untuk seseorang, kepada seseorang...)
Tiba-tiba derai angin terperangkap pada gelisah kabut
Menoreh rasa
Teteskan bisu yang memuncak
Memandangmu,
Tiba-tiba laut kehilangan geliat
Jarak membatasi gerak
Sulit membaca isyarat
Memandangmu,
Tiba-tiba mimpi bersayap putih
Menemani perjalanan malam
Terbayang jemu pada satu peran
Yang seharusnya dilakonkan
Memandangmu,
Tiba-tiba adalah wajah purnama sempurna
Terperangkap pada pot kaca
Samar kata menjamahnya
Petualang pun kehilangan arah
Tak mampu mengukur jarak pengembaraanya.....
(Saduran puisi seseorang, untuk seseorang, kepada seseorang...)
Sunday, May 01, 2005
Kepada Istri Terleraiku
Untuk: L
Sebentar lagi aku akan berangkat kenegri yang jauh
Aku berharap, Kau akan selalu menjaga kesehatanmu
Menjaga semangat
Tetap menjadi petarung untuk segala sesuatu yang menghadang didepan
Hidup masih panjang
Masih banyak hal yang akan ditemukan
Masih banyak hal yang harus dilakukan
Dunia ini akan menjadi luas hingga melapangkan dada kita, seluas kita menterjemahkannya
Maka selalu gali makna dari setiap cerita yang terlewati
Apa yang pernah kita lakukan bersama, tidaklah akan menjadi cerita yang pahit
Bukanlah hal yang akan membuat kita selalu terpuruk
Namun merupakan titik balik untuk melakukan lompatan yang lebih tinggi
Lebih jauh kedepan
Kita akan menjadikannya guru yang takkan henti-hentinya mengajari
Membimbing kita
Agar bisa lebih bijak
Lebih berarti dalam perjalanan panjang hidup ini
Aku benar-benar berharap
Seperti harapan besar anakku padamu Leila......
(Jakarta, 00:00, 01 Mei 2005)
Untuk: L
Sebentar lagi aku akan berangkat kenegri yang jauh
Aku berharap, Kau akan selalu menjaga kesehatanmu
Menjaga semangat
Tetap menjadi petarung untuk segala sesuatu yang menghadang didepan
Hidup masih panjang
Masih banyak hal yang akan ditemukan
Masih banyak hal yang harus dilakukan
Dunia ini akan menjadi luas hingga melapangkan dada kita, seluas kita menterjemahkannya
Maka selalu gali makna dari setiap cerita yang terlewati
Apa yang pernah kita lakukan bersama, tidaklah akan menjadi cerita yang pahit
Bukanlah hal yang akan membuat kita selalu terpuruk
Namun merupakan titik balik untuk melakukan lompatan yang lebih tinggi
Lebih jauh kedepan
Kita akan menjadikannya guru yang takkan henti-hentinya mengajari
Membimbing kita
Agar bisa lebih bijak
Lebih berarti dalam perjalanan panjang hidup ini
Aku benar-benar berharap
Seperti harapan besar anakku padamu Leila......
(Jakarta, 00:00, 01 Mei 2005)
Friday, April 29, 2005
Tak ada yang terlahir hari ini
Hanya kilasan sebagai pertanda
Buat duka yang tak seharusnya....
(Kampung Gege, 00:00, 29 April 2005)
Hanya kilasan sebagai pertanda
Buat duka yang tak seharusnya....
(Kampung Gege, 00:00, 29 April 2005)
Friday, April 22, 2005
Ibu, sepagi ini
Baru rona kujelang langit
Belum lagi warna-warni setelahnya
Kau telah berbalik
Kembali pada kegelapan malamSeperti tak menginginkankuTerlahir menyinari hidupmu
(Kampung Gege, 05:30, 22 April 2005)
Baru rona kujelang langit
Belum lagi warna-warni setelahnya
Kau telah berbalik
Kembali pada kegelapan malamSeperti tak menginginkankuTerlahir menyinari hidupmu
(Kampung Gege, 05:30, 22 April 2005)
Friday, April 15, 2005
Nak
Nak, malam ini ayah akan tetap melaut
Walau setiap orang surut
Namun aku harus!
Demi hari esok
Demi tetap menyalanya tungku masa depan kita
Nak, ketika tanah ini berguncang
Orang-orang berlari keatas bukit
Maka kaupun harus turut
Esok kala hari menjelang
Perutmu lapar tak tertahankan
Pergilah kepantai
Mungkin aku akan membawa beberapa ikan
Mungkin......
Bila Tsunami tak menghantam
(Pantai Ujung Tanjung, 16:30, 15 April 2005)
Nak, malam ini ayah akan tetap melaut
Walau setiap orang surut
Namun aku harus!
Demi hari esok
Demi tetap menyalanya tungku masa depan kita
Nak, ketika tanah ini berguncang
Orang-orang berlari keatas bukit
Maka kaupun harus turut
Esok kala hari menjelang
Perutmu lapar tak tertahankan
Pergilah kepantai
Mungkin aku akan membawa beberapa ikan
Mungkin......
Bila Tsunami tak menghantam
(Pantai Ujung Tanjung, 16:30, 15 April 2005)
Tuesday, April 12, 2005
Disini
Disini tiap senandung terasa lebih indah
Dari pucuk-pucuk hijau, semilir mengusir resah
Damai mengeringkan luka
Daya berlipat ganda
Disini semangat terpupuk sempurna
Waktu mengasuh kita
Hingga kembali mampu berdiri
Tegak ditengah gelanggang
Kembali menjadi petarung hidup sejati
(Lunang, 07:45, 12 April 2005)
Disini tiap senandung terasa lebih indah
Dari pucuk-pucuk hijau, semilir mengusir resah
Damai mengeringkan luka
Daya berlipat ganda
Disini semangat terpupuk sempurna
Waktu mengasuh kita
Hingga kembali mampu berdiri
Tegak ditengah gelanggang
Kembali menjadi petarung hidup sejati
(Lunang, 07:45, 12 April 2005)
Sunday, April 10, 2005
Seperti Andai...
Seperti waktu-waktu yang terus berlalu
Keindahan hanya didalam mimpi
Seperti andai malam ini, didepan perapian
Dibawah langit bergemintang sempurna
Diantara dengung serangga dan perlahan senandung katak
Ditengah rimba belantara
Kita bercerita tentang semesta raya
Bercinta tanpa terduga
Hingga larut kantuk menidurkan kita
Ah, terkadang aku memang seperti punguk merindukan bulan
Menyanjungmu setinggi hati
Beronani sendiri hingga pagi
Terkadang....
(Lunang, 22:30, 10 April 2005)
Seperti waktu-waktu yang terus berlalu
Keindahan hanya didalam mimpi
Seperti andai malam ini, didepan perapian
Dibawah langit bergemintang sempurna
Diantara dengung serangga dan perlahan senandung katak
Ditengah rimba belantara
Kita bercerita tentang semesta raya
Bercinta tanpa terduga
Hingga larut kantuk menidurkan kita
Ah, terkadang aku memang seperti punguk merindukan bulan
Menyanjungmu setinggi hati
Beronani sendiri hingga pagi
Terkadang....
(Lunang, 22:30, 10 April 2005)
Tuesday, March 29, 2005
Dari (Negeri Leluhurmu) Utara
Dari utara
sayup seperti bisik
Ketika keringat tak juga tertebus bahagia
Hidup berkecamuk
Daya hilang
Lelah merajang
Tersungkur ditikam kenyataan
Maka sebaiknya kau pulang
Kembali merengkuh damai negerimu
Seperti dulu
Dari utara
Dengan senyum kami
Kau bisa membangun kejayaanmu kembali
(P. Jawa, 04:00, 29 Maret 2005)
Dari utara
sayup seperti bisik
Ketika keringat tak juga tertebus bahagia
Hidup berkecamuk
Daya hilang
Lelah merajang
Tersungkur ditikam kenyataan
Maka sebaiknya kau pulang
Kembali merengkuh damai negerimu
Seperti dulu
Dari utara
Dengan senyum kami
Kau bisa membangun kejayaanmu kembali
(P. Jawa, 04:00, 29 Maret 2005)
Saturday, March 26, 2005
Perawan berlutut ketika purnama tegak
Ketika kerinduan tak lagi tertahan
Setelah tiga purnama persembahan terabaikan
Dipuncak bukit diatas karang
Tak lagi ratap tersedu
Tetapi lengking menyayat hati...
Ketika kerinduan tak lagi tertahan
Setelah tiga purnama persembahan terabaikan
Dipuncak bukit diatas karang
Tak lagi ratap tersedu
Tetapi lengking menyayat hati...
Friday, March 25, 2005
Maka Simpan Kata Maafmu
Ini tidak tentang siapa yang terluka
Terseok menahan derita terdalam
Namun kita memang telah menjadi siksa
Terbakar tak berdaya
Ditengah kobaran yang telah kita sulut sendiri
Ini tentang karma
Tentang waktu yang terlahir
Suatu masa penebusan
Yang harus dibayar hingga tuntas
Maka simpan kata maafmu itu
Karena yang terpenting
Seperti apa kita memahaminya
(Tj. Duren, 09:57PM, 25 Maret 2005)
Ini tidak tentang siapa yang terluka
Terseok menahan derita terdalam
Namun kita memang telah menjadi siksa
Terbakar tak berdaya
Ditengah kobaran yang telah kita sulut sendiri
Ini tentang karma
Tentang waktu yang terlahir
Suatu masa penebusan
Yang harus dibayar hingga tuntas
Maka simpan kata maafmu itu
Karena yang terpenting
Seperti apa kita memahaminya
(Tj. Duren, 09:57PM, 25 Maret 2005)
Thursday, March 17, 2005
Telah kububuhkan titik
Takkan ada yang tertoreh lagi setelahnya...
(Cempaka Mas, 16:45, 17 Maret 2005)
Takkan ada yang tertoreh lagi setelahnya...
(Cempaka Mas, 16:45, 17 Maret 2005)
Monday, March 07, 2005
Angkara meraung setinggi hati
Ketika kekasih berkhianat
Ketika mimpi menyelinap pergi
Tanpa peduli...
(Tj. Duren,01:00 AM, 07 Maret 2005)
Ketika kekasih berkhianat
Ketika mimpi menyelinap pergi
Tanpa peduli...
(Tj. Duren,01:00 AM, 07 Maret 2005)
Berakhir Dimatamu
Kebencian bergelora
Bergejolak seperti amuk samudera
Berawal dari matamu
Pesona dari gemerisik daun
Yang terjatuh helai demi helai
Ketika badai datang
Ketika purnama terpangkas mendung
Malam menjadi kelam
Mimpi pudar kehilangan warna
Kekasih berkhianat tanpa cela
Kebencian bergelora
Menggelegar seperti petir dianggkasa
Berakhir dimatamu
Yang menatap setajam belati
Menikam tepat ditengah hati
Darah yang menetes
Seperti dendam yang terlahir
Menjadi kesumat yang terdalam
Mengendap jauh didasar hati
Didasar kepercayaan diri
(Tj. Duren, 11:00 PM, 06 Maret 2005)
Kebencian bergelora
Bergejolak seperti amuk samudera
Berawal dari matamu
Pesona dari gemerisik daun
Yang terjatuh helai demi helai
Ketika badai datang
Ketika purnama terpangkas mendung
Malam menjadi kelam
Mimpi pudar kehilangan warna
Kekasih berkhianat tanpa cela
Kebencian bergelora
Menggelegar seperti petir dianggkasa
Berakhir dimatamu
Yang menatap setajam belati
Menikam tepat ditengah hati
Darah yang menetes
Seperti dendam yang terlahir
Menjadi kesumat yang terdalam
Mengendap jauh didasar hati
Didasar kepercayaan diri
(Tj. Duren, 11:00 PM, 06 Maret 2005)
Sunday, March 06, 2005
Jiwa-jiwa yang bebas
Jiwa-jiwa yang mengepakkan sayap membelah angkasa
Melukis pada langit
Menebarkan warna-warna
Tentang ekspresi kebebasannya
(Jakarta, 04:25 PM, 05 Maret 2005)
Jiwa-jiwa yang mengepakkan sayap membelah angkasa
Melukis pada langit
Menebarkan warna-warna
Tentang ekspresi kebebasannya
(Jakarta, 04:25 PM, 05 Maret 2005)
Aku Yang Menjadi Dendam
Aku terdampar dinegeri tanpa matahari
Dimana tak ada warna melainkan kegelapan yang bungkam
Pada ruang yang hanya menyisakan kenangan
Tentang hari-hari yang tak bisa kupahami
Aku meniti waktu yang menjadi dendam
Menjadi kesumat pada hati yang terdalam
Menjadi mimpi-mimpi yang takkan pernah terlupakan
Tentang cerita, tentang cinta
Tentang duka yang menjadi tangis dikemudian
(Tj. Duren, 10:00 AM, 05 Maret 2005)
Aku terdampar dinegeri tanpa matahari
Dimana tak ada warna melainkan kegelapan yang bungkam
Pada ruang yang hanya menyisakan kenangan
Tentang hari-hari yang tak bisa kupahami
Aku meniti waktu yang menjadi dendam
Menjadi kesumat pada hati yang terdalam
Menjadi mimpi-mimpi yang takkan pernah terlupakan
Tentang cerita, tentang cinta
Tentang duka yang menjadi tangis dikemudian
(Tj. Duren, 10:00 AM, 05 Maret 2005)
Saturday, March 05, 2005
Pada saat kau mulai mengerti
Aku mungkin telah berlayar jauh menuju seberang
Pergi membawa kenangan
Membawa mimpi-mimpi yang tak pernah bisa kita selesaikan...
(Tj. Duren, 06:22 AM, 05 Maret 2005)
Aku mungkin telah berlayar jauh menuju seberang
Pergi membawa kenangan
Membawa mimpi-mimpi yang tak pernah bisa kita selesaikan...
(Tj. Duren, 06:22 AM, 05 Maret 2005)
Friday, March 04, 2005
Kemana Perginya?
Kemana perginya gejolak dimatamu
Bagai senja yang luruh
Kau hilang
Tandas dibekap malam
Ketika aku masih mengenang tajam sorotmu
Dalam sayatanmu
Seperti luka yg berbekas setelahnya
Seperti jiwa yang cacat karenanya
Dimana keteguhan hatimu
Setelah berwaktu-waktu kokoh laksana karang
(Ujung Aspal, 10:22 PM, 03 Maret 2005)
Kemana perginya gejolak dimatamu
Bagai senja yang luruh
Kau hilang
Tandas dibekap malam
Ketika aku masih mengenang tajam sorotmu
Dalam sayatanmu
Seperti luka yg berbekas setelahnya
Seperti jiwa yang cacat karenanya
Dimana keteguhan hatimu
Setelah berwaktu-waktu kokoh laksana karang
(Ujung Aspal, 10:22 PM, 03 Maret 2005)
Keresahan berkecamuk ketika badai menjelang
Gelombang datang menghantam tanpa cela
Kau yang terlempar setelahnya
Hilang tersedot arus
Jauh dikedalaman Samudera
(Ujung Aspal, 06:06 PM, 03 Maret 2005)
Gelombang datang menghantam tanpa cela
Kau yang terlempar setelahnya
Hilang tersedot arus
Jauh dikedalaman Samudera
(Ujung Aspal, 06:06 PM, 03 Maret 2005)
Perempuan bertelanjang kaki
Termenung ditengah padang
Menatap kosong pada kaki langit
Berguman pada desau
Pada rambutnya yang berkibar seperti ilalang
Seperti sedang mengutuki waktu
Yang menyimpan benih dendam...
(Ujung Aspal, 05:15 PM, 03 Maret 2004)
Termenung ditengah padang
Menatap kosong pada kaki langit
Berguman pada desau
Pada rambutnya yang berkibar seperti ilalang
Seperti sedang mengutuki waktu
Yang menyimpan benih dendam...
(Ujung Aspal, 05:15 PM, 03 Maret 2004)
Thursday, March 03, 2005
Tidak Untuk Ditangisi...
Paruh senja mematuk kaki langit
Hari yang terkapar karenanya
Merangkak perlahan
Tersendat pada sudut-sudut yang senyap
Paruh usia yang sombong
Tercabik-cabik diterkam zaman
Terlukanya hati
Tersayat pada semua mimpi-mimpi
Dan hari demi hari setelahnya
Semua hal, semua cerita yang telah berlalu
Segala luka yang tergores karenanya
Tidak untuk selalu ditangisi...
(Ujung Aspal, 09:07 PM, 02 Maret 2005)
Paruh senja mematuk kaki langit
Hari yang terkapar karenanya
Merangkak perlahan
Tersendat pada sudut-sudut yang senyap
Paruh usia yang sombong
Tercabik-cabik diterkam zaman
Terlukanya hati
Tersayat pada semua mimpi-mimpi
Dan hari demi hari setelahnya
Semua hal, semua cerita yang telah berlalu
Segala luka yang tergores karenanya
Tidak untuk selalu ditangisi...
(Ujung Aspal, 09:07 PM, 02 Maret 2005)
Sepercik api menggelora
Ketika manjamu terhantar polos
Laksana kicau pada pagi buta
"Aku kan bangkit", gumanku...
Kembali meretas perjalan ini
Untukmu, untuk renyah candamu
Tiada yang lain...
(Pondok Gde, 09:52 AM, 02 Maret 2005)
Ketika manjamu terhantar polos
Laksana kicau pada pagi buta
"Aku kan bangkit", gumanku...
Kembali meretas perjalan ini
Untukmu, untuk renyah candamu
Tiada yang lain...
(Pondok Gde, 09:52 AM, 02 Maret 2005)
Sunday, February 27, 2005
Aku Takkan Kembali
Maafkan aku ayah...
Tidak seperti yang kau rindukan
Tentang sikecil yang selalu membanggakan hatimu
Menenangkan gejolak perjalananmu
Ketika ibu bisu menutup diri
Ketika pertengkaran itu tidak berujung
Tangan legammu yang memegang pundakku
Air mata yang mengalir perlahan
Menghantar parau suaramu
Tentang cinta dan kasih sayang
Padaku, pada keutuhan keluargamu
Dan kau menahan semua siksa itu
Sendiri, tanpa peduli....
Aku takkan pulang ayah...
Aku takkan mampu menjejakkan kaki dirumahmu
Walau kerinduan membunuhku
Aku takkan kembali
Karena aku tak sepertimu....
(Ujung Aspal, 01:22 AM, 27 Februari 2005)
Maafkan aku ayah...
Tidak seperti yang kau rindukan
Tentang sikecil yang selalu membanggakan hatimu
Menenangkan gejolak perjalananmu
Ketika ibu bisu menutup diri
Ketika pertengkaran itu tidak berujung
Tangan legammu yang memegang pundakku
Air mata yang mengalir perlahan
Menghantar parau suaramu
Tentang cinta dan kasih sayang
Padaku, pada keutuhan keluargamu
Dan kau menahan semua siksa itu
Sendiri, tanpa peduli....
Aku takkan pulang ayah...
Aku takkan mampu menjejakkan kaki dirumahmu
Walau kerinduan membunuhku
Aku takkan kembali
Karena aku tak sepertimu....
(Ujung Aspal, 01:22 AM, 27 Februari 2005)
Tuesday, February 15, 2005
Yang Mengelorakan Semangat
Perempuan laksana bintang
Membawa kemilau menaburkan harapan
Pada malam yang tersungkur ditikam waktu
Dikhianati dunianya yang tak lagi memiliki hati
Perempuan yang selalu menggelorakan semangat
Ketika mimpi menuai sunyi
Ketika menjadi senyap
Terpaku, tak ada lagi yang bisa dimengerti
(Ujung Aspal, 5:27 PM 14 Februari 2005)
Perempuan laksana bintang
Membawa kemilau menaburkan harapan
Pada malam yang tersungkur ditikam waktu
Dikhianati dunianya yang tak lagi memiliki hati
Perempuan yang selalu menggelorakan semangat
Ketika mimpi menuai sunyi
Ketika menjadi senyap
Terpaku, tak ada lagi yang bisa dimengerti
(Ujung Aspal, 5:27 PM 14 Februari 2005)
Sunday, February 13, 2005
Maka Hidup Tak Perlu Lagi...
Telah ku tinggalkan semua mimpi-mimpi indah
Tuk luruh mengabdi dalam dunia yang kan kita bangun bersama
Dengan seluruh totalitas yang kumiliki
Merangkai harapan indah yang kini musnah terampas
Seperti aku yang terlempar tak berdaya setelahnya
Tersesat diantara waktu yang tak lagi kumengerti
Maka hidup tak perlu lagi berarti
Maka hidup tak perlu lagi...
(Pd gde, 3:14 12 Februari 2005)
Telah ku tinggalkan semua mimpi-mimpi indah
Tuk luruh mengabdi dalam dunia yang kan kita bangun bersama
Dengan seluruh totalitas yang kumiliki
Merangkai harapan indah yang kini musnah terampas
Seperti aku yang terlempar tak berdaya setelahnya
Tersesat diantara waktu yang tak lagi kumengerti
Maka hidup tak perlu lagi berarti
Maka hidup tak perlu lagi...
(Pd gde, 3:14 12 Februari 2005)
Saturday, January 01, 2005
Kubiarkan Kau Pergi
Ku biarkan kau pergi
Walau jauh menyebarangi samudera
Menuju negeri yang akan kau tempati sendiri
Tanpa aku, tanpa kita
Kurelakan kau menjauh
Meninggalkan semua mimpi-mimpi indah bersama
Membakar hangus semua cerita yang telah kita lalui
Demi kita, demi sisa usia yang masih bisa kita isi dengan hal terbaik
Kubiarkan kau hilang bersama waktu yang terus berjalan
Bersama zaman yang akan berganti
Agar tak ada lagi hati yang tersakiti...
(Jakarta, 1 Januari 2005)
Ku biarkan kau pergi
Walau jauh menyebarangi samudera
Menuju negeri yang akan kau tempati sendiri
Tanpa aku, tanpa kita
Kurelakan kau menjauh
Meninggalkan semua mimpi-mimpi indah bersama
Membakar hangus semua cerita yang telah kita lalui
Demi kita, demi sisa usia yang masih bisa kita isi dengan hal terbaik
Kubiarkan kau hilang bersama waktu yang terus berjalan
Bersama zaman yang akan berganti
Agar tak ada lagi hati yang tersakiti...
(Jakarta, 1 Januari 2005)
Subscribe to:
Posts (Atom)

